
Metromilenial online.com, SIDRAP — Pesantren Mahasiswa (Pesma) 2026 Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) resmi berakhir. Kegiatan yang berlangsung sejak Senin (24/8/2026) di Auditorium H. Zaini Razak UMS Rappang itu ditutup oleh Rektor UMS Rappang Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si., Kamis (27/8/2026) malam.
Acara penutupan dihadiri jajaran pimpinan UMS Rappang, para wakil rektor, Badan Pembina Harian (BPH), dekan, ketua program studi, kepala lembaga dan biro, serta dosen di lingkungan UMS Rappang.
Hadir pula mewakili Bupati Sidrap, Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Pemkab Sidrap Drs. Nasruddin Waris, M.Si.
Dalam sambutannya, Nasruddin menekankan pentingnya sikap adaptif bagi mahasiswa dalam menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sekaligus mengambil peran dalam pembangunan daerah.
“Adaptif itu mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan. Setiap hari harus selalu ada progres dan kemajuan,” kata Nasruddin dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan perkembangan Kabupaten Sidrap dari sisi ekonomi dan pembangunan manusia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator yang menggambarkan kemajuan perekonomian suatu daerah.
Nasruddin menyebut pertumbuhan ekonomi Sidrap menjadi salah satu yang tertinggi di Sulawesi Selatan. Ia juga menyinggung capaian pembangunan manusia yang menurutnya menunjukkan adanya kemajuan, khususnya dalam bidang pendidikan.
“Yang paling penting juga adalah indeks pembangunan manusia. Ada tiga indikator pokok, yaitu pendidikan, kesehatan, dan tingkat pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Nasruddin mengatakan keberadaan perguruan tinggi di suatu daerah memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Meski pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan dominan terhadap pendidikan tinggi, perguruan tinggi dinilai tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, kampus merupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, pemerintah daerah perlu membangun sinergi dengan perguruan tinggi.
“Perguruan tinggi merupakan pusat episentrum pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga wajar pemerintah daerah melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi,” katanya.
Ia berharap keberadaan mahasiswa di Sidrap tidak hanya memberikan dampak ekonomi secara langsung, tetapi juga menghadirkan transfer pengetahuan dan inovasi bagi masyarakat.
Hal tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun program pengabdian kepada masyarakat.
Nasruddin mencontohkan kegiatan mahasiswa KKN yang diharapkan mampu melahirkan inovasi untuk dikembangkan di desa dan kelurahan, terutama dalam pengembangan ekonomi masyarakat.
“Yang paling penting kita berharap dengan kehadiran mahasiswa KKN akan terjadi transformasi ilmu pengetahuan dan ada inovasi-inovasi yang dilahirkan mahasiswa untuk dikembangkan di desa, terutama inovasi terkait pengembangan ekonomi masyarakat desa,” jelasnya.
Nasruddin secara khusus mengapresiasi kontribusi UMS Rappang dalam mendorong digitalisasi di tingkat desa.
Ia menilai pengembangan inovasi berbasis teknologi menjadi penting karena masyarakat saat ini berada dalam era digital.
Menurutnya, UMS Rappang memiliki perhatian terhadap pengembangan ekonomi pedesaan melalui konsep desa cerdas atau smart village.
“Termasuk yang paling menonjol di UMS yang saya monitor adalah inovasi-inovasi yang berkaitan dengan digitalisasi. Saya lihat ada pemetaan potensi yang dikerjasamakan dengan mahasiswa UMS Rappang,” ungkapnya.
Ia berharap kontribusi kampus terus diperkuat, khususnya dalam membantu pengembangan ekonomi masyarakat dan menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam kesempatan tersebut, Nasruddin juga memberikan pesan kepada mahasiswa UMS Rappang agar tidak hanya mengandalkan pembelajaran formal di ruang kelas.
Ia mendorong mahasiswa aktif mengikuti organisasi dan berbagai aktivitas kampus sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Menurutnya, organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang untuk mengasah kemampuan bekerja sama, menyusun proposal, mengelola kegiatan hingga menyusun anggaran.
“Pembelajaran di kelas hanya teori. Praktik yang paling nyata di kampus adalah di organisasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjalani rutinitas yang hanya berkutat antara rumah, kampus, kantin, dan kembali ke rumah.
“Jangan hanya belajar di kelas, setelah itu ke kantin lalu pulang ke rumah. Perbanyak beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang sifatnya informal,” katanya.
Selain aktif berorganisasi, mahasiswa juga diminta menjadi pribadi pembelajar dan mampu beradaptasi dengan dinamika sosial serta perkembangan global.(*)
Tidak ada komentar