Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia UMS Rappang Berbagi Wawasan di Virtual Domestic Exchange

waktu baca 3 menit
Selasa, 18 Agu 2026 05:20 0 41 Bahri Layya

Metromilenial online com, SIDRAP — Ketua Program Studi (Kaprodi) S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), Dr. Jumiati, S.Pd., M.Pd., menjadi salah satu pemateri dalam

kegiatan Virtual Domestic Exchange (VDE) yang digelar Universitas Islam Makassar (UIM) melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut mengusung tema “Intercultural Communication and Environmental Literacy”. Program ini mempertemukan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia untuk bertukar pengalaman mengenai budaya, komunikasi lintas daerah, sekaligus isu lingkungan.

Dr. Jumiati dipercaya membawakan materi Intercultural Communication, sementara materi Environmental Literacy disampaikan Dr. Wahyuni, S.Pd., M.Pd.
Peserta VDE berasal dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Islam Makassar, Universitas Banda Naira, UMS Rappang, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi akademik, tetapi juga berkesempatan mengenal keragaman budaya Indonesia dan membangun komunikasi dengan mahasiswa dari daerah berbeda.

Rangkaian kegiatan diisi dengan icebreaking dan networking antarmahasiswa, sharing budaya daerah, diskusi isu lingkungan lokal, hingga sesi breakout room yang mempertemukan mahasiswa lintas universitas.

Peserta kemudian diajak menyusun dan mempresentasikan solusi secara kolaboratif terhadap berbagai persoalan lingkungan yang ditemukan di daerah masing-masing. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan pemberian e-certificate kepada peserta.

Dr. Jumiati mengatakan, kegiatan VDE menjadi ruang yang penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus belajar berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda.

“Intercultural communication bukan hanya tentang kemampuan berbahasa, tetapi juga bagaimana kita memahami, menghargai, dan mampu berinteraksi secara positif dengan orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda,” kata Dr. Jumiati.
Menurutnya, keberagaman budaya Indonesia

merupakan kekuatan yang perlu dikenalkan dan dipahami oleh mahasiswa. Pertukaran virtual juga menjadi alternatif
pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa membangun jejaring akademik tanpa harus berada di tempat yang sama secara fisik.
“Melalui VDE ini, mahasiswa dapat belajar bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Justru dari perbedaan itu kita bisa saling belajar dan menemukan perspektif baru,” ujarnya.

Dr. Jumiati berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia.

“Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu pertemuan saja, tetapi dapat menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan antarmahasiswa dan antarperguruan tinggi. Mahasiswa diharapkan semakin percaya diri berkomunikasi lintas budaya, memiliki wawasan nasional yang lebih luas, serta mampu berkolaborasi dalam menyelesaikan persoalan yang ada di lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Selain memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya, kegiatan VDE tersebut juga diharapkan mendorong mahasiswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman dari berbagai daerah di Indonesia.(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *