Jalur Seba-Seba (Jalan Alternatif PT Vale): Mencekam, 10 Pos Pungli Kembali Berjaya!

waktu baca 2 menit
Kamis, 3 Sep 2026 09:07 0 22 Bahri Layya

Metromilenial Online.com – Morowali
Jalur alternatif PT Vale yang dikenal luas sebagai Jalur Seba-Seba kini kian mencekam dan memanas! Pungutan liar (pungli) yang sempat “dibereskan” oleh Resmob Morowali beberapa minggu lalu ternyata hanya bertahan satu hari saja — setelah itu pos-pos palang kembali aktif, bahkan jumlahnya bertambah hingga 10 titik dengan tarif yang terus membebani para pengemudi.
Tarif & Beban yang Semakin Berat

Tarif bervariasi: Rp40.000 hingga Rp50.000 per kendaraan
– Dulu sempat tertib, kini malah lebih banyak pos dibanding sebelumnya
– Oknum pemilik palang terus berdalih: “Ini tanah nenek moyang, kami berhak.” Padahal jalur ini sejak awal dibangun oleh PT Inco (kini PT Vale) — sudah ada jauh sebelum PT IMIP hadir di Morowali.

Insiden Memanas di Pos Palang Beddu
Semalam ketegangan memuncak di pos palang milik Beddu:
Sopir hanya sanggup memberi Rp20.000, namun ditolak — harus Rp40.000
– Terjadi tarik-menarik dan adu mulut, nyaris berujung bentrokan fisik
– Para sopir terpaksa bersatu mengambil sikap karena laporan resmi ke Polres Morowali pada 19 Agustus hingga kini tak ada tindak lanjut sama sekali

“Kami terpaksa turun tangan, apa boleh buat. Laporan kami tak digubris. Mereka enak duduk di pos terima uang, sementara kami bersusah payah di jalan mencari nafkah. Apapun resikonya, kami siap hadapi.” — ungkap salah satu sopir dengan nada getir.

Keluhan Para Pengemudi

– Jalan rusak jarang diperbaiki, tapi pungutan terus jalan
– Sopir lintas Sulawesi Selatan–Sulawesi Tengah makin tertekan
– Keringat, debu, hujan, panas — ditambah pungutan tiap pos
– Tak tahu lagi harus mengadu ke mana

Harapan & Tuntutan
Para sopir meminta pihak berwenang, kepolisian, dan pemerintah daerah Morowali segera turun tangan secara serius dan berkelanjutan. Bukan sekadar tertibkan sehari lalu dibiarkan kembali merajalela. Jalan ini adalah jalur umum — bukan milik perorangan untuk dipungut sesuka hati!

Sampai kapan pungli ini dibiarkan menguasai jalan umum? Keadilan di mana?

Apakah ada keluhan serupa di jalur lain? Mari saling berbagi informasi agar suara para pekerja terdengar lebih keras! (Sukamri/*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *