Sulap Limbah Sekam Padi Jadi Cuan, Mahasiswa PPG UMS Rappang Latih Ibu-Ibu Bikin Sabun

waktu baca 3 menit
Sabtu, 22 Agu 2026 04:46 0 38 Bahri Layya


Metromilenial online.com, Sidrap – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) Kelompok 3 menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan limbah sekam padi menjadi sabun colek cuci piring yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Kegiatan bertajuk pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan limbah sekam padi menjadi produk Sekam Clean tersebut berlangsung di Lantai 3 Gedung Rektorat UMS Rappang, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan ini dibuka langsung Rektor UMS Rappang Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si. Turut hadir Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kabupaten Sidenreng Rappang Muhammad Fajri Salman, SKM., M.Kes., dosen pengampu, mahasiswa, serta puluhan ibu-ibu dari masyarakat sekitar kampus yang menjadi peserta.

Ketua panitia kegiatan, Mutiara, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut berawal dari keresahan mahasiswa terkait banyaknya limbah sekam padi yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Projek ini berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, apa yang bisa kita lakukan dengan sesuatu yang selama ini kita anggap tidak berguna?” kata Mutiara dalam laporannya.

Menurutnya, Kabupaten Sidrap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras terbesar di Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut membuat limbah sekam padi cukup mudah ditemukan di tengah masyarakat.
“Dari sanalah lahir gagasan untuk memanfaatkan limbah sekam padi menjadi produk sabun colek cuci piring yang ramah lingkungan dan memiliki nilai manfaat,” ujarnya.

Mutiara menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pelaksanaannya melibatkan masyarakat penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH), mahasiswa PPG, serta mahasiswa program sarjana UMS Rappang.

Tujuan kegiatan, kata dia, tidak hanya memberikan keterampilan baru kepada masyarakat, tetapi juga mendorong kreativitas dan membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah.
“Kami ingin berbagi keterampilan, menumbuhkan kreativitas, serta membuktikan bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti di ruang kelas,” jelasnya.

Ia berharap keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat sehingga kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pelatihan semata.
“Saya berharap ini tidak berhenti di sini. Saya yakin apa yang kami berikan bersama teman-teman kepada masyarakat akan bermanfaat,” ungkapnya.
Mutiara mengungkapkan pembuatan sabun tersebut relatif sederhana dan membutuhkan modal yang cukup terjangkau. Salah satu bahan utama yang dibeli kelompok adalah Texapon.

“Modal yang kami beli itu cuma Texapon, harganya Rp25 ribu. Dari Rp25 ribu itu bisa kami kembangkan, hasilnya sekitar tujuh cup,” katanya.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktik pembuatan sabun antara lain Texapon, garam, air, serta bahan berbasis sekam padi yang telah diproses sebelumnya.

Menurut Mutiara, konsep tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif usaha rumahan bagi masyarakat sekaligus mengurangi limbah pertanian.
Salah seorang peserta, Hariani, mengaku mendapatkan pengetahuan baru setelah mengikuti pelatihan tersebut. Ia menilai proses pembuatan sabun cukup mudah untuk dipraktikkan kembali di rumah.
“Ini bermanfaat, kami mendapatkan ilmu dan pengalaman. Tadi sudah paham cara membuatnya,” kata Hariani.

Ia juga menilai pemanfaatan sekam padi sebagai bahan dalam produk rumah tangga memiliki potensi ekonomi karena bahan bakunya relatif mudah ditemukan di wilayah Sidrap.
Menurutnya, proses pembuatan tidak terlalu sulit untuk dilakukan masyarakat.
“Mudah, tidak susah,” katanya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa PPG UMS Rappang dalam mengimplementasikan kepemimpinan pendidikan melalui aksi di tengah masyarakat.

Mutiara menambahkan, proses pelaksanaan kegiatan juga menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk belajar bekerja sama, membangun kepemimpinan, dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

“Kepemimpinan bukan tentang siapa yang berdiri paling depan. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana kita mampu berjalan bersama,” tuturnya.
Ia berharap inovasi Sekam Clean dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh bahwa limbah pertanian di daerah dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, ramah lingkungan, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *