Metromilenial online.com,vSIDRAP – Satu tahun kepemimpinan Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif (SAR), dinilai membawa angin segar bagi kesejahteraan masyarakat di Bumi Nene Mallomo. Tak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi, gaya kepemimpinan SAR yang sederhana dan egaliter kini menjadi sorotan, khususnya di kalangan akademisi dan mahasiswa.
Dalam sebuah forum diskusi di lingkungan kampus, Rektor ITKES Muhammadiyah Sidrap, Dr. Tahir Saenong yang juga penulis artikel gaya kepemimpinan di Jurnal Internasional Bereputasi, secara terang-terangan mendorong mahasiswa Muhammadiyah untuk membedah dan meneladani rekam jejak Syaharuddin Alrif. Menurutnya, SAR adalah representasi pemimpin yang lahir dari proses panjang dunia pendidikan dan organisasi.
Pemimpin yang Lahir dari Proses.
Syaharuddin Alrif bukanlah pemimpin yang muncul secara instan. Kesuksesannya saat ini merupakan buah dari kematangannya dalam berorganisasi sejak masa pelajar, mahasiswa hingga terjun ke dunia politik praktis.
> “Beliau adalah bukti nyata bahwa aktivis organisasi kemahasiswaan bisa menjadi pemimpin daerah yang sukses. Gaya kepemimpinannya yang merakyat adalah cerminan dari pengalamannya bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat sejak dulu,” ujar Dr. Tahir Saenong.
Kesejahteraan dan Kesederhanaan
Selama satu tahun menakhodai Sidrap, SAR berhasil mengimplementasikan kebijakan yang pro-rakyat. Meskipun menjabat sebagai orang nomor satu di Sidrap, ia seringkali terlihat turun langsung ke sawah, ke kebun, ke peternakan dan pasar hingga bermalam didesa tanpa sekat dengan warga.
Beberapa poin yang menjadikan SAR sebagai role model bagi generasi muda antara lain:
Visi Jauh ke Depan: Membangun Sidrap dengan konsep modernitas tanpa meninggalkan nilai lokal.
Integritas Organisasi: Membawa semangat “Fastabiqul Khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan) yang relevan dengan nilai-nilai Muhammadiyah.
Ketokohan Nasional: Prediksi banyak pihak menyebut SAR tidak hanya akan berhenti sebagai tokoh lokal, melainkan dipersiapkan menjadi pemimpin di level nasional di masa depan.
Pesan untuk Generasi Penerus
Dr. Tahir Saenong menekankan bahwa mahasiswa Muhammadiyah sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki mentor nyata. SAR dianggap memenuhi kriteria tersebut karena mampu menyelaraskan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional di organisasi, dan keberanian politik.
“Mahasiswa harus banyak belajar dari Pak Bupati. Bagaimana beliau berbicara, bagaimana beliau mengambil keputusan, dan bagaimana beliau tetap sederhana meski memegang kekuasaan. Ini adalah laboratorium kepemimpinan yang nyata bagi kita semua,” pungkasnya.(*)
Tidak ada komentar