Pasar Baru Tosora Diprotes Warga, Akses Sulit dan Jarak Jauh Mengemuka dalam Reses Amran

waktu baca 3 menit
Selasa, 27 Jan 2026 10:15 0 53 Bahri Layya

Laporan : (Alif Batara Dewa).

METRO MILENIAL.COM WAJO -Kegiatan reses Anggota DPRD Kabupaten Wajo, Amran, di Desa Tellulimpoe, Kecamatan Majauleng, Senin (26/1/2026), menjadi ruang curahan hati masyarakat terkait polemik pemindahan Pasar Lama Tosora ke Pasar Baru Ladua yang berada di wilayah Desa Tellulimpoe.

Reses yang dihadiri warga dari Desa Tellulimpoe, Desa Tosora, dan Desa Tua itu berlangsung penuh dinamika. Dalam forum dialog terbuka, masyarakat secara bergantian menyampaikan keluhan atas dampak sosial dan ekonomi yang mereka rasakan sejak pasar dipindahkan ke lokasi baru.

Warga menuturkan, sejak relokasi dilakukan, aktivitas jual beli menurun drastis. Lokasi Pasar Ladua dinilai terlalu jauh dari pusat aktivitas warga Tosora, ditambah lagi kondisi akses jalan yang rusak parah, sehingga pembeli enggan datang. Akibatnya, pendapatan pedagang terus merosot, bahkan sebagian harus menanggung beban tambahan seperti biaya transportasi dan sewa bentor.

“Kasihan kami pak. Kami jualan di pasar baru tapi sepi sekali karena jalannya rusak dan jaraknya jauh. Orang-orang lebih memilih ke Pasar Palattae yang swasta. Kami sempat buka pasar sore dekat pasar lama, tapi dilarang karena dianggap ilegal. Kami bingung pak, kami cuma mau cari makan untuk keluarga,” ungkap salah seorang warga dengan nada haru.

Karena kondisi tersebut, sebagian warga berinisiatif membuka pasar sore di sekitar lokasi Pasar Lama Tosora, yang dinilai lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat. Namun, upaya tersebut justru mendapat penolakan dari pemerintah dan sebagian pedagang pasar baru dengan alasan tidak memiliki izin.

Menanggapi keluhan warga, Amran menyampaikan bahwa persoalan Pasar Tosora bukan hal baru baginya. Ia mengaku telah mendengar aspirasi serupa saat kunjungan daerah pemilihan (dapil) pada tahun 2025 lalu, bahkan telah berupaya menelusuri lebih jauh proses pemindahan pasar tersebut.

“Beberapa waktu lalu saya sudah turun dapil dan mendengar langsung keluhan warga. Setelah saya telusuri, saya merasa pemindahan pasar ini memang tidak melalui proses pertimbangan yang matang. Kesan saya, pasar ini seperti asal dipindahkan saja. Mudah-mudahan dugaan saya salah. Jangan sampai pembangunan hanya berorientasi proyek, sementara masyarakat justru menjadi korban,” tegas Amran.

Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan akses jalan menuju Pasar Ladua agar roda ekonomi masyarakat kembali bergerak. Meski perbaikan jalan tersebut belum masuk dalam APBD Pokok Tahun 2026, Amran menegaskan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini.

“Saya dan teman-teman di DPRD akan berupaya semaksimal mungkin mendorong peningkatan ruas jalan Paria–Tosora atau jalan menuju Pasar Ladua. Kami berharap dukungan penuh dari Bapak Bupati, karena saya yakin beliau sangat memberi perhatian pada persoalan yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Amran mengingatkan agar pemerintah ke depan belajar dari pengalaman ini. Menurutnya, setiap kebijakan dan perencanaan pembangunan harus benar-benar berpijak pada kebutuhan riil masyarakat, mempertimbangkan aspek sosial dan geografis, serta mengedepankan asas manfaat.

Sementara itu, Bakri, salah satu tokoh pemuda setempat, berharap pemerintah dapat segera menghadirkan solusi yang berpihak kepada masyarakat kecil.

“Kami berharap pasar sore bisa diaktifkan kembali, entah melalui skema pasar desa atau bentuk lain yang legal. Yang penting masyarakat mudah mengakses pasar dan tetap bisa mencari penghidupan,” harap Bakri.

Diketahui, hingga saat ini Pasar Ladua atau Pasar Baru Tosora telah resmi beroperasi, namun masih menuai berbagai keluhan dari masyarakat. Selain persoalan jarak dan kondisi jalan, meningkatnya biaya transportasi turut menjadi beban pedagang, sehingga memicu munculnya pasar sore yang kemudian dipersoalkan.

Melalui forum reses ini, masyarakat berharap DPRD dan Pemerintah Daerah dapat segera duduk bersama untuk mengevaluasi kebijakan relokasi pasar dan menghadirkan solusi yang adil, berkelanjutan, serta berpihak pada ekonomi rakyat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *