Jejak Dakwah di Ujung Timur Sidrap: Kisah Kelompok 2 ke Desa Leppangeng,Sidrap

waktu baca 2 menit
Rabu, 11 Mar 2026 05:22 0 110 Bahri Layya


Oleh: Dr. H.Syaripuddin (ketua kelompok)

Ramadan tahun ini menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan bagi tujuh pendekar dakwah dari Kelompok 2 MUI Sidrap. Tujuan kami satu: Desa Leppangeng. Sebuah desa di ujung timur Bumi Nene Mallomo yang jalannya lebih mirip tantangan nyali daripada sekadar rute perjalanan.

Satu Perjalanan, Seribu Cerita
Perjalanan dimulai dengan semangat membara, namun medan berbicara lain. Tanjakan ekstrem dan tikungan tajam seolah menguji niat kami sebelum sampai di mimbar masjid.

Mulyadi: Menjadi “korban” pertama dari kerasnya jalur pegunungan. Setibanya di lokasi, ia hanya bisa meringis karena seluruh badannya terasa remuk dan kaku. Dakwah kali ini benar-benar menguras fisik!

Kapten Anwar: Sang pemimpin pun tak luput dari cobaan. Akibat guncangan motor dan angin kencang di jalur pendakian, sorban kebanggaannya sampai terlepas dan jatuh. Sebuah simbol bahwa alam Leppangeng memang tak main-main.

Syamsuddin: Biasanya paling vokal, tapi kali ini ia mendadak “puasa bicara”. Bukan karena tidak mau, tapi karena ketegangan melihat tanjakan yang begitu vertikal hingga nafas pun terasa sesak.

Pak Nurdin: Berkali-kali mengucap istighfar dan “minta ampun”. Melihat jalan yang berliku-liku di pinggir jurang, nyalinya seolah diuji di setiap belokan.

Pak Rasyidin: Sosok yang satu ini merasa seperti sedang bertugas di “Negeri di Atas Awan”. Tempat tugasnya berada di titik tertinggi, seolah-olah ia sedang berdakwah di ujung langit.

Pak Baktiar: Di tengah rekan-rekannya yang tegang, ia adalah yang paling tenang. Pak Baktiar justru sangat menikmati setiap jengkal perjalanan, menganggap pemandangan ekstrem sebagai seni ciptaan Tuhan yang indah.

Syaripuddin: Sebagai bagian dari tim, ia merasa sangat terkesan. Baginya, lelahnya fisik terbayar lunas saat melihat antusiasme masyarakat desa terpencil menyambut cahaya Ramadan.

Kesan Mendalam: Dakwah Bukan Sekadar Kata
Bagi Kelompok 2, perjalanan ke Leppangeng bukan sekadar menggugurkan kewajiban jadwal ceramah. Ada beberapa kesan mendalam yang kami bawa pulang:

Ketangguhan Fisik dan Mental: Kami belajar bahwa menyampaikan kebaikan butuh pengorbanan ekstra, terutama bagi saudara-saudara kita di wilayah pelosok.

Persaudaraan yang Kuat: Rasa sakit, tegang, dan tawa di sepanjang jalan semakin mempererat ikatan tim.

Makna Kehadiran: Di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kehadiran seorang muballigh sangat dinantikan. Rasa lelah hilang seketika saat melihat senyum para jamaah di ujung timur Sidrap ini.

“Dakwah di Desa Leppangeng mengajarkan kami bahwa semakin sulit jalan yang ditempuh, semakin manis keberkahan yang dirasakan.”(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *