Eksistensi dan Masa Depan Asrama “Titang”

banner 728x250
Bagikan..

Eksistensi dan masa depan Asrama Titang Makassar . Oleh Prof. Dr. Muhammad Syahrir
Metromilenial online.com,Sidrap—Asrama “Titang,” sejak dibangun sekitar tahun 1980, dan kemudian dihuni mahasiswa asal kabupaten Sidrap, hingga kini, ribuan, bahkan hitungannya, ratusan ribu sarjana tersukseskan. Terbilang, Asrma Titang, telah melahirkan dan “memproduksi” sejumlah tokoh, cendikiawan, akademisi, ahli dan pakar diberbagai bidang keilmuan, termasuk sejumlah profesi kerja dan kinerja lainnya.

A.Rasional

Secara sistematis, kehadiran Asrama Titang, berbagai profesi dan tokoh serta akademisi telah “dicetak.” Diantaranya, sarjana sains, dan teknologi, sarjana sosial, dan sarjana profesi, seperti dokter, insinyur, ekonom, guru, politisi, pengacara, pertanian, dan sarjana ilmu pemerintahan.

Sejumlah peraih gelar akademik tersebut, saat berstatus mahasiwa, memilih menetap dan “mondok” di Asrama Titang. Bagi mereka, Asrma Titang, awal tapak jejak merajut asa, tempat “menjahit” konstruksi berpikir, mendisain kehidupan, dan memformat ilmu pengetahuan, termasuk merahabilitasi referensi secara terstruktur. Legenda rasionya, di Asrama Titang, adalah tempat pertamakali naluri keilmuan mulai terbuka, dan melihat masa depan dunia.

Saat semuanya masih berstatus mahasiswa, menempuh pendidikan di berbagain perguruan tinggi di Kota Makassar, fungsi Asrama Titang, selain menjadi rumah tinggal, juga sebagai rumah tempat belajar. Tempat untuk “meracik” logika berpikir, berkarya, dan membangun mimpi, hingga menggapai cita dan “cinta.” Fenomena itu, jika diaktulisasi kembali ingatan, maka lahir kesepakatan bersama, untuk kemudian menyatakan, betapa besar jasa, dan sumbangsi Asrama Titang bagi kesuksesan dan keberhasilan mahasiswa dalam capaian kesarjanaannya.

Kolaborasi emperis tersebut, bagi alumni “penghuni” Asrama Titang, terfaktakan, telah banyak bebuat dan bekerja bagi kemajuan pembangunan daerah, bangsa dan negara. Melalui loyalitas dan kemampuan keilmuan personalnya, mereka berbakti dan berkarya di berbagai profesi dan pekerjaan, baik di Makassar, seluruh daerah di Sulawesi, termasuk di Papua, Maluku, Ace, Jawa, Sumatera, dan Jakarta, juga sebagian dari mereka tengah berada di luar negeri. Intensitas para alumni Asrama Titang, dalam berkarya diseluruh Nusantara, dan di luar negeri, mensimbolisasi pilar pengetahuan, Asrama Titang adalah “Rumah Belajar, Sejuta Sukses.”

Improvisasi fleksibelnya, andaikan Asrama Titang tak dibangun atau kurang berfungsi sebagai asrama mahasiswa, maka dipastikan terjadi dampak minus terhadap pembangunan pendidikan dan edukasi, termasuk faktor terbesar dipengaruhi, adalah terjadi pelambatan terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Sulawesi dan Indonesia. Untungnya, dibalik konsekwensi dari dampak tersebut, konstribusi dan jasa besar Asrama Titang, mampu mengorbitkan kemajuan pengembangan sumber daya manusia. Atau dari sisi fungsional, Asrama Titang, layak dianalogkan, sebagai asset vital, terhadap pembangunan SDM. Olehnya, difungsi serta manfaat Asrama Titang, merupakan rangkaian percepatan dan juga optimalisasi mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti tujuan pendidikan, tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945.

Parameter tersebut, super paralel dengan jasa – guna Asrama Titang. Misalnya, diukur dari faktor ekonomi dan kehidupan sosial. Pada tahun 1980 – an, saat itu, sumberitas ekonomi masih sangat terbatas, termasuk akses lapangan kerja dan turunanya, terbilang cukup sempit. Demikian pula, ruang transaksi hanya berputar pada pasar, di kampung, di desa, di kacamatan, berikut di pasar tradisional. Termasuk, ruang fiskal dan ketahanan fiskal, cukup rapuh, dan tak mampu bertahan lama. Dampaknya, bepengaruh terhadap lemahnya pendapatan perkapita masyarakat. Saat itu, masyarakat tergolong mampu dan survival adalah mereka yang berstatus pegawai negeri sipil, (PNS) atau anggota sipil negara (ASN).

Pada kondisional demikian, berpengaruh besar terhadap kekurangan biaya dan dana bagi mahasiswa. Muaranya, melahirkan resiko kehidupan sosial. Seperti sebagian mahasiswa, dalam menghadapi kekurangan biaya kuliah, solusinya, terpaksa memilih pulang kampung, jual asset milik orang tua, keluarga dan kerabat, seperti ayam, kambing, sapi, gabah, dan sejenisnya. Disaat menjelang menyelesaikan studi kesarjanaan, terpaksa menggadaikan “warisan”, berupa sawah, tanah dan ladang. Tujuan penjualan dan hasil transkasinya, adalah untuk memenuhi biaya pendidikan di studi kesarjanaan. Resiko lain dihadapi, yakni sebagian dari mereka, terpaksa “putus” kuliah, dorp out (DO), akibat tak mampu membayar biaya kuliah diperguruan tinggi tempatnya belajar.

Rangkaian fenomena demikian, “hadir dan lahir” Asrama Titang. Memberi fungsi, seperti meringankan dan memangkas sebagian biaya akademik, dengan sistim, bagi mahsisa dan mahasiswi dari Sidrap, dibebaskan biaya sewa rumah, “free” bayar kontrakan. Konstribusinya, untuk urusan tempat tinggal dan menginap, “mondok” juga beraktivitas, cukup tergratiskan, selama masih berstatus mahasiswa. Lewat sistim ini, sejumlah mahasiswa terselamatkan, dalam menggapai titel kesarjanaan. “Keynote” nya Asrama Titang, secara fungsional, mampu meredam resiko sosial – ekonomi dikehidupan kemahasiswaan.

Selanjutnya, kolabor-aksi fungsi mahasiswa di Jalan Titang Makassar Sulawesi Selatan, dalam mewujudkan dan juga mempercepat capaian prestasi akademik, atau terlebel sebagai sarjana, adalah sebuah pembuktian keberhasilan dalam membangun infrastruktur pendidikan. Antaralain, keberhasilan tersebut, dikonstruksi sebagai bentuk kesuksesan berinvestasi dibidang edukasi dan akademisi, atau secara ilmiah disebut, referensi memotorisasi “bangunan” sumber daya manusia.

Sinergi dan energi sosial dalam membangun dan menghadirkan, termasuk menghibahkan asset untuk fasilitas dan infrastruktur dan elemen disejumlah kebutuhan pendididkan, adalah menghadirkan kecerdasan ilmu pengetahuan untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam waktu singkat. Persepsi realitasnya, kehadiran fasilitas dan infrastruktur pendidikan, berfungsi memutus matarantai kebodohan, keterbelakangan dan kemudian mengubah kehidupan marginal sistem, menjadi kemajuan berkesejahteraan. Instruksinya, para ahli dan pakar ilmu pengetahuan merumuskan sebagai langkah kongkrit mempercepat perubahan.

Solusi tersebut, menggerakkan dan memotivasi sejumlah tokoh, pengusaha, cendekiawan, agawawan, akademisi dan sejumlah masyarakat Sidrap, untuk membangun Asrama di Jalan Titang, Kota Makassar. Kala itu, ditengah keterbatasan dana, akses dan asset ekonomi, masyarakat bercara melalui sistim gorong royong, urung rembuk, mengumpulkan dana, anggaran, dan juga modal untuk membangun asrama, hunian bagi mahasiswa dari Sidenreng Rappang. Melalui tradisi masyarakat Sidrap “Tudang Sipulung, Sipakatau,” sehingga beberapa bulan kemudian, Asrama Mahasiswa di jalan Titang, berhasil dibangun dengan dana dan anggaran, murni dari swadaya masyarakat. Kiat dan gelut dalam membangun Asrama Titang, sebagian pelaku sejarah pembangunan masih hidup, dan sebagaiannya lagi telah wafat, “mereka pergi untuk selamanya berbalut kain kafan ama sholeh.”

Tersebut dalam sejarah pembangunan Asrama Tintang, konstribusi terbesar datang dari Bupati Sidrap, Haji Arifin Nu’mang. Lewat instruksi dan tangan bupati, pemerintah kabupaten Sidrap, membantu anggaran, hingga Asrama Mahasiswa di Jalan Titang berdiri untuk kemudian ditempati mahasiswa belajar dan melangsungkan pendidikan akademiknya. Oleh, Bupati Arifin saat itu, terbilang cerdas juga cendekia, berkat langkah dan pikirannya terwujud percepatan capaian kesuksesan generasi.

Konstruksi tersebut, seperti disebutkan dua ahli ilmu pendidikan, Ivan Illich di Prancis dan Daniel Goldman di Amerika Serikat, “Mewujudkan dan membangun infrastruktur pendidikan, posisinya sama seperti, meraih kesuksesan masa depan tanpa rintangan.” Tapi, jika terjadi sebaliknya, menghadirkan prilaku, dengan sengaja menghilangkan, “mematikan” dan juga ”menjual” serta “menggusur” pasilitas pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, pesantren, kampus dan bangunan universitas, termasuk perguruan tinggi, tanpa alasan logis, non logic, maka prilaku tersebut, berposisi menghentikan dan mengakhiri juga “mentamatkan” masa depan ratusan, dan ribuan, bahkan jutaan generasi. Pada tingkat tertinggi, risikonya adalah menghentikan keberlangsungan pembangunan, bangsa dan negara, atau “the end of nation.”

Termimologi tersebut merasionalisasikan sebuah peristiwa besar dan dramatis, yakni saat Socrates, cendekiawan dan filsuf terkemuka dan penemu teori dan rumus demokrasi, dihukum mati oleh pengadilan Athena di Yunani. Fenomena Socrates, membuka logika dan wacana, untuk kemudian merespon pembenaran argumentasi, bahwa pasti akan terjadi kerugian besar bila bertindak tak wajar terhadap institusional juga pelaku dan penggiat edukasi. Jika peristiwa tersebut ditarik masuk ke dalam “bangunan” akademik, maka rasionalnya, akan ditemukan sebuah kesalahan patalistik, ketika merelakan fasilitas pendidikan “dijual” atau termanfaatkan di luar dari fungsi maksimalnya, seperti asrama mahasiswa.

B. Eksistensi Asrama Titang.
Asrama Titang, tempat terbaik menggapai sukses. Saksinya, telah banyak generasi tahun 80 an, hingga sarjana tahun 2000 an dari Sidrap, mengetahui vitalisasi fungsi Asrama Titang bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan Sumber Daya Manusia di Sulawesi dan Sulawesi Selatan. Buktinya, sejumlah generasi, dan mahasiwa tercerdaskan. Perbandingannya, sekalipun Asrma Titang, bukan kampus, juga bukan universitas dan pergurian tinggi, juga tidak berkategori bangunan perpustakaan, akan tetapi, jika dicermati pada sisi kesajajaran manfaat, maka Asrma Titang, funghsionalnya, setara dengan bangunan kampus dan perguruan tinggi. Keduanya, berfungsi normal sebagai fasilitas tempat belajar, dengan asumsi, tempat mendewasakan cara pandang, terhadap kehidupan sosial.

Bahkan jika di kaji pada sudut padang optimal kegunaannya, Asrama Titang, direferenseikan sebagai tempat “Engineers Society.” Alasannya, penghuni Asrama Titang, “tumbuh” berbagai wacana, diskusi, dialektika, perbedaan cara pandang, dan juga cara bersikap. Hubungan emsosional terjalin erat, demikian pula sikap saling membantu, toleransi, serta ruang demokrasi . Misalnya, saat berkumpul di Asrama, sistim komunikasinya lebih mengedapankan tatakrama dan saling menghormati. Termasuk saling kontrol, atau control society, terus tumbuh antar sesama mahasiswa. Fakta rasional tersebut, merespon pendapat umum, bahwa menetap di Asrama Mahasiwa seperti Asrama Titang, lebih berprestai dan lebih unggul dibanding tinggal di luar asrama.

Antara lain, tersebut, Prof. Dr Abd Rahman Lainding,M.Si. peraih gelar profesor dan doktor pertama di Asrama Titang) Dr. H Mustafa Djide, M.Kes guru besar Universitas Hasanuddin, Makassar, sejak pertama kuliah, memilih tinggal di Asrama Titang. Artinya, prestasi besar, sang profesor, di mulai “dirumah mahsiswa” di jalan Titang. Melihat gemilang kecerdasan Profesor, membuat mahasiswa lain dari Sidrap, mengikuti jejaknya. Sejak itu, animo mahaiswa dan calon mahasiswa pun, secara berantai antri menyatakan minat dan keinginan untuk tinggal di Asrama Titang.

Tak lama berselang, Prof. Dr Ir Abd Rahman Lainding M.Si yang meraih gelar akademiknya, dan juga, saat kali pertama menginjakkan kaki di Makassar berstatus mahasisa, rekam jejaknya, tinggal di Asrama Titang. (bla bla bla, demikian selanjutnya…(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *